Vitamin T

Januari 22, 2009

46Gila..!!! beberapa hari ini pikiran saya diikat oleh sesuatu setelah membaca buku kecil seukuran notes berjudul “Lincah Menulis Pandai Berbicara”, karangan AS Romli.Tak kurang dari hitungan jam, buku tipis itu saya lahap tuntas. Efeknya luar biasa..Hari berikutnya saya kunjungi toko buku yang sama. Niatnya mencari buku sejenis dengan tema yang tak jauh beda, namun tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah buku dengan judul yang rada nyentrik, “Vitamin T”, apa pula ini ?.

Sayang…, saya tak bisa mengetahui isi buku lebih lanjut karena masih rapih terbungkus plastik.. Saya beranikan diri merogoh kocek untuk memiliki dan membawanya ke rumah. Sore  hingga malam saya tenggelam oleh kalimat demi kalimat yang tersaji di dalamnya….Edan…!

Laksana sungai mengalir, semakin laju ke muara semakin asyik riak gelombangnya. Halaman demi halaman Vitamin T karya Hernowo ini  menggiring saya memasuki gelombang rasa kepenasaran. Imajinasi terus dkocok dan pada titik tertentu beberapa peristiwa lama berdatangan memenuhi kepala. Seperti ada energi yang mendorong dan membakar hasrat  untuk segera menggerakan tangan. Saya ambil vulpen dan beberapa kertas kosong,..ajaib… jemari saya tergerak begitu saja mencatat apa  yang ingin saya catat.

Hari-hari berikutnya, segala sesuatu  yang semestinya saya lakukan di tempat kerja menjadi tidak menarik – selain membaca dan menulis. Vitamin T telah meracuni fikiran  hingga ke ubun-ubun yang paling dalam.

Sewaktu dapat tugas dinas ke Sukabumi dari tempat kerja, Vitamin T saya masukan ke daypack untuk bisa jadi teman perjalanan yang mengasyikan atau jadi kawan yang menentramkan manakala tak ada kesibukan di tempat tujuan.

Tadinya bila urusan kerja di Sukabumi sudah selesai, saya harus segera kembali ke Jakarta, namun saya tidak bisa menolak tawaran Pak Budi yang baik hati untuk menginap di kantornya barang semalam. Ah !  mengapa tak saya sambut saja sekalian lagi pula waktu memang sudah merambat menjelang magrib. Nah Jadinya saya harus menikmati suasana hening berhawa dingin yang menelingkup kawasan wisata yang didominasi hutan damar tersebut.

Di ruang kerja pak Budi yang sederhana  tergolek beberapa bulletin Wanadri edisi lama. Saya buka lembar demi lembar. Bulletin seukuran majalah National Geographic yang sebagian besar mengulas kegiatan alam terbuka di Indonesia tersebut saya santap, termasuk di dalamnya kisah pendakian gunung Everest yang melegenda.Di halaman terakhir tertera sederet bait renungan yang cukup menggoda,….tiba-tiba saja saya terinspirasi untuk membuat tulisan dan meresensi kisah pendakian Everest lewat artikel pendek di laptop yang saya miliki.

Gerimis di luar dan kabut tebal yang membekap tempat sejuk ini mengurung saya untuk tidak beranjak dari Vitamin T Saya tak ingin melewatkan malam berlalu begitu saja, Malam ini sebagian besar Vitamin T saya benamkan di kepala, satu bab lainnya lewat begitu saja. Bab – bab berikutnya saya kunyah. Renyah.

Satu artikel resensi pendakian Everest mengalir begitu saja , kata dan kalimat bertebaran liar tak beraturan memenuhi halaman layar komputer. Semakin memelototi paragraf demi paragraf rasa-rasanya susunannya kacau sekali. Saya coba perbaiki agar lebih hemat dan tepat dalam memilih kata- dan kalimat. Susah memang kalau kita mau mengungkapkan gagasan lewat tulisan, butuh kesabaran, perlu perjuangan dan ketelitian, namun saya agak tidak mempedulikan itu semua, yang penting malam ini apa yang ada di dalam kepala harus bisa saya ungkapkan lewat tulisan, pokoknya harus selesai, perkara bagus atau tidak…itu  nomor dua.

Jam dinding yang irama detaknya di tempat sepi ini begitu  terasa, fuih… sudah setengah tiga – nyaris menjelang pagi. Catatan pendakian Everest nyaris memasuki paragraf akhir. Hampir tiga perempat bagian dari Vitamin T pun sudah saya lahap, kalimat demi kalimat yang dirangkai di dalamnya sungguh memikat.

Malam kian menggigit dan kesunyian terus merayap. Hawa dingin yang kian menyergap membuat saya harus berpindah  ke ruangan yang lebih hangat, kantung tidur yang sedari tadi tergolek disamping, saya gunakan sebagai selimut penghangat, rasa kantuk memaksa saya untuk segera istirahat, perlahan komputerpun saya matikan dan Vitamin  T saya tutup sesaat.

2 Responses to “Vitamin T”

  1. al-sabaliny Berkata

    Wah, ternyata termasuk pujangga juga nich, Pak Koes….
    Eh, ngomong-ngomong vitamin T itu apa ya? Boleh tahu dong….
    Makasih dah berkunjung ke blog saya. Udah saya tanggapi tuch, komentar Bapak….

  2. Koes Berkata

    Akhirnya terjawab juga kepuyengan saya…, Tanggapan bapak langsung saya praktekan dan saya temukan themes -themes yang beragam di default themes. Tapi pak bila ingin melanjutkan ke step no 4, apa yang harus saya “lakukan”, apakah harus mendaftar/registrasi sehingga saya memiliki URL sendiri, gimana prosedurnya, kepada siapa ? dlsb. Maaf banyak nanya neh pak Ustadz…O ya ..Vitamin T itu judul buku karangan Bpk Hernowo terbitan Mizan yang menginspirasi saya untuk berani menulis.
    Hatur Nuhun…..!!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s